Tidak Ada Alasan Bagi Valentino Rossi untuk Pensiun

Tidak Ada Alasan Bagi Valentino Rossi untuk Pensiun

Rider Ujicoba tim Ducati Corse, Casey Stoner mengaku tak kaget melihat fakta bahwa eks Koleganya, Valentino Rossi masih juga beradu dengan tunggangannya di ajang MotoGP Sampai saat ini. Menurut pandangan Stoner, sama sekali tak ada alasan bagi Rossi untuk meninggalkan atau pensiun dari dunia balap meski usianya sudah 39 tahun.

Tidak Ada Alasan Bagi Valentino Rossi untuk Pensiun

Sebagai informasi, Casey Stoner adalah mantan pebalap Ducati yang cukup ternama, dia memutuskan gantung sepatu dari dunia balap saat masih sangat muda, tepatnya pada usia 27 tahun di tahun 2012 silam. Sampai sekarang, yang bersangkutan sama sekali tidak memutuskan untuk kembali bergelut dengan dunia MotoGP, kecuali sebagai Test Rider untuk Tim Ducati baru ini.

Sementara itu, Valentino Rossi saat ini sudah terlampau tua, 39 tahun, dimana pada usia tersebut semestinya seorang rider sudah gantung sepatu, tapi tidak dengan rider asal Italia. Mantan pebalap Repsol Honda tersebut masih bertekad dengan gelar juara dunia ke-10 dalam karirnya sebagai rider.

Nah, fakta bahwa Valentino Rossi masih asyik berkutat dengan aspal dan tunggangannya sama sekali tak membuat Stoner merasa kaget. Dalam pandangannya, Rossi sama sekali tidak memiliki alasan untuk gantung sepatu dari karirnya sebagai pebalap.

“Saya tak terlalu kaget melihat performa Vale. Setiap orang pasti berbeda. Dulu kita punya Mick Doohan, yang butuh waktu lama sebelum mulai meraih gelar dunia, dan ia tetap jadi juara di pertengahan usia 30an,”

“Jika Anda lihat orang-orang yang ikut event Ironman (ajang triathlon), mereka adalah beberapa orang paling fit di dunia, pada umumnya berusia 35-40 tahun di mana mereka berada di kondisi terbaik. Jadi berkata bahwa ada kelompok usia, itu hal bodoh,” ujar juara dunia MotoGP 2007 dan 2011 ini.

Marc Marquez Tak Mau Terlena Status Juara Bertahan

Marc Marquez Tak Mau Terlena Status Juara Bertahan

Rider andalan Tim Repsol Honda, Marc Marquez, mengaku sama sekali tidak terlena dengan statusnya sebagai juara bertahan, setelah pada kampanye musim kemarin berhasil menjadi kampiun Dunia MotoGP. Menurut Marquez, Status tersebut sama sekali tidak berpengaruh pada hasil akhir pada kampanye musim ini.

Marc Marquez Tak Mau Terlena Status Juara Bertahan

Sebagaimana diketahui, Marc Marquez berhasil mempertahankan titel Juara Dunia MotoGP pada kampanye musim 2017 kemarin setelah finish di puncak klasemen akhir. Dengan keberhasilan tersebutpun, praktis meminimalisir keraguan publik terhadap kemampuan rider asal Spanyol yang faktanya saat ini masih sangat muda, 24 tahun.

Musim 2018 sendiri sudah akan digulirkan kembali, namun Marquez seperti tampil meragukan di sepanjang balap ujicoba di Sirkuit Sepang selama beberapa hari terakhir. Dia bahkan kalah telak dari yang tercepat, Rider Ducati Corse, Jorge Lorenzo. Terkait dengan hal tersebut, Marquez mengakui bahwa status juara bertahan bukanlah jaminan untuk bisa kembali mendapatkan hasil yang apik.

Marquez mengaku sama sekali tidak akan terlena dengan status juara bertahan MotoiGP dan akan bekerja keras untuk bisa mempertahankan status tersebut musim ini.,

“Per 1 Januari, saya bukan lagi juara. Saya hanya salah satu rider di grid, salah satu rider yang akan mencoba merebut gelar dunia. Kita lihat saja apa kami bisa menjalani pramusim dengan baik. Tentu saya harus berusaha mempertahankan gelar, tapi di Qatar semuanya dimulai dari nol. Saya difavoritkan seperti rider lain,”

“Beginilah dunia balap. Jelas ada ketegangan dan tekanan. Tampaknya setiap tahun makin banyak rival, makin banyak pabrikan dan level performa kian setara. Inilah yang membuat MotoGP berkembang. Beginilah pertunjukannya, dan ini menarik banyak penggemar. Jelas musim ini persaingan akan sengit, banyak aksi salip dan pertarungan sampai tikungan terakhir. Bakal menyenangkan,” ujarnya.

Kisah Milena Koerner, Manajer Wanita Pertama di MotoGP

Kisah Milena Koerner, Manajer Wanita Pertama di MotoGP

Dunia Otomotif belakangan ini dihebohkan dengan keputusan Balap Mobil Formula 1 untuk menghapuskan kehadiran Grid Girl sejak musim ini. Hal tersebut ternyata menimbulkan perdebatan panas di antara paddock MotoGP. Sebagian Pro dengan keputusan dari F1 tapi tidak sedikit juga yang justru ada di pihak yang menentangnya.

Kisah Milena Koerner, Manajer Wanita Pertama di MotoGP

Beberapa pihak yang menentang keputusan tersebut termasuk diantaranya adalah Amy Dargan, yang bekerja sebagai reporter Dorna Sports di MotoGp, juga sosok Milena Corner yang merupakan satu-satunya manajer tim wanita pertama di Paddock Grand Pix, tak lain untuk tim Forward Racing di Moto2.

Wanita cantik ini melakukan wawancara bersama dengan GPOne terkait dengan perjalanan karirnya sejak awal berkecimpung di dunia otomotif, mulai dari menggemarinya dan terjun di dunia moto2. Diceritakan oleh Milena bahwa pada awalnya dia adalah seorang model promosi, dan kecintaannya akan MotoGP sendiri dimulai saat kakeknya mengajaknya untuk menonton langsung balapan

Meski karirnya terbilang cukup lancar sejauh ini, tapi diungkapkan oleh Milena bahwa dia tidak mendapatkan semuanya dengan mudah, perlu perjuangan mengingat dunia MotoGP sendiri didominasi oleh kaum Pria.

“Saya tadinya merupakan model promosi, dan di saat yang sama bekerja di area hospitality. Sebelum ujian terakhir sekolah, saya berada di Afrika Selatan untuk bekerja saat balapan. Setelahnya saya naik pesawat, pulang, pergi ke sekolah dan mengerjakan ujian,” ujar Koerner, yang tak sepakat dengan keputusan F1 menghapus grid girl.

“Saya tak melihatnya sebagai keputusan yang masuk akal. Masalahnya bukanlah wanita, tapi justru para pria yang berpikir bahwa wanita yang ada di paddock hanya bertugas memakai rok mini, sepatu berhak dan berdiri di sebelah motor. Wanita-wanita ini bisa saja bekerja untuk mencari biaya sekolah atau hanya sekadar ingin menjadi bagian dari dunia yang mereka sukai,” lanjutnya.

Hasil Ujicoba di Sepang Bukan Penentu Hasil Race Nanti

Hasil Ujicoba di Sepang Bukan Penentu Hasil Race Nanti

Rider asal Spanyol, Marc Marquez, angkat bicara mengenai hasil bagus yang didapat Rider Ducati Corse, Jorge Lorenzo dalam balap ujicoba di Sirkuit Sepang Malaysia kemarin. Menurut sang juara bertahan, hasil di balapan ujicoba sama sekali bukan penentu untuk race final nanti.

Hasil Ujicoba di Sepang Bukan Penentu Hasil Race Nanti

Sebagaimana diketahui, Jorge Lorenzo yang terlihat kesulitan pada balapan musim kemarin bersama dengan tunggangan barunya , Ducati. Dia cukup sulit beradaptasi dengan pabrikan asal Italia tersebut, dan akhirnya tampil gemilang sejak pertengahan musim sampai akhir. Meski gagal menempati podium di klasemen akhir, namun performa Lorenzo bersama dengan Ducati sudah semakin Klop.

Hal tersebut terlihat juga dari performanya dalam ujicoba hari ketiga di Sirkuit Sepang, Malaysia. Dalam ujicoba tersebut, Lorenzo bersama dengan Desmondisci berhasil menjadi rider dengan catatan kecepatan nomor pertama, mengalahkan sang juara bertahan MotoGP musim kemarin, Marc Marquez.

Terkait hal ini, Rider Repsol Honda mengaku sama sekali tak khawatir menyaksikan performa apik yang dicatatkan Lorenzo bersama dengan tim Ducati Corse sepanjang race ujicoba. Menurutnya, hasil dari race ujicoba sama sekali tidak menentukan hasil pada race sesungguhnya nanti.

“Di Sepang, Jorge memang sangat cepat. Ia sukses mematahkan rekor, tapi kami semua punya ritme yang setara. Ducati dan Jorge tampaknya berada di level yang tinggi, tapi kami harus menunggu. Mereka jelas mengalami kemajuan, seperti semua pabrikan. Motor dan tim mereka bakal kompetitif,”

“Kedua rider Ducati memang cepat, tapi Malaysia ‘kan memang sirkuit di mana mereka selalu tampil baik. Jadi harus dilihat apa yang akan terjadi di kondisi dan sirkuit berbeda. Tapi Jorge mampu melakukan apapun, itulah mengapa ia punya lima gelar. Ia jelas akan jadi salah satu rival dalam perebutan gelar,” ujarnya kepada AS.

Lorenzo pindah Ke Ducati Bukan Untuk Jadi Pahlawan

Lorenzo pindah Ke Ducati Bukan Untuk Jadi Pahlawan

Jorge Lorenzo memutuskan untuk pindah ke Tim Ducati setelah sembilan tahun menjadi keluarga Yamaha. Banyak yang menilai bahwa keputusannya tersebut didasari oleh keinginannya untuk menjadi pahlawan ducati yang tak pernah merajai MotoGP selama beberapa tahun terakhir. Namun, hal ini kemudian dibantah oleh Rider asal Spanyol tersebut.

Lorenzo pindah Ke Ducati Bukan Untuk Jadi Pahlawan

Sebagaimana diketahui, Lorenzo memang telah resmi bergabung dengan Tim Ducati sejak awal musim 2017 kemarin. Sebelumnya, Lorenzo adalah salah satu rider andalan Yamaha, dan selama kurang lebih sembilan musim bersama dengan Pabrikan asal Jepang tersebut, Lorenzo memenangkan sejumlah prestasi bergengsi.

Sementara itu, selama periode tersebut, Ducati sendiri jarang mendapatkan gelar juara dari Rider mereka. Tak heran jika Lorenzo yang dikenal sebagai rider andalan Yamaha selama ini dinilai datang ke Ducati untuk jadi pahlawan. Namun, hal tersebut sendiri kemudian dibantah oleh sang Rider asal Spanyol.

Ditegaskjan oleh Lorenzo bahwa keputusannya bergabung dengan Ducati sendiri tak lain karena ambisiinya untuk jadi juara di masa mendatang bersama dengan Pabrikan asal Italia tersebut.

“Saya sangat percaya diri, dan saya percaya pada tim dan para engineer kami. Saya rasa Gigi, cepat atau lambat, dengan bantuan Dovi dan saya, serta para engineer yang hebat, akan menciptakan motor terbaik di MotoGP. Saya ingin berada dalam tim itu. Inilah alasan saya sangat percaya pada Ducati. Saya rasa kami akan berhasil,”

“Saya tidak pindah ke Ducati dengan peluang dianggap sebagai pahlawan. Saya pindah karena saya senang saja, dan ingin mencapai target personal. Mereka membuat saya punya rasa lapar dan harapan untuk menang, karena saya ingin terus meraih gelar dunia,” ujarnya kepada Marca.

Pada musim pertamanya sebagai rider Ducati, Lorenzo sendiri tampil kurang bagus, proses adaptasinya berlangsung lama sebelum kemudian mencatatkan hasil-hasil bagus sejak pertengahan musim.

Marc Marquez Akui Pertimbangkan Tawaran dari Tim Lain

Marc Marquez Akui Pertimbangkan Tawaran dari Tim Lain

Setelah enam tahun lamanya menikmati karir bersama dengan Tim Repsol Honda dan memenangkan sejumlah gelar bergengsi, pebalap asal Spanyol, Marc Marquez, mulai memikirkan masa depannya di MotoGP. Sosok berusia 24 tahun tersebut mengaku akan mempertimbangkan kemungkinan membela pabrikan lain.

Marc Marquez Akui Pertimbangkan Tawaran dari Tim Lain

Marc Marquez, 24 tahun, sudah menjadi bagian dari Rider Tim Repsol Honda sejak akhir tahun 2012 silam. Sejak bergabung, rival abadi Valentino Rossi ini telah memenangkan empat gelar juara Dunia MotoGP, termasuk saat memenangkannya di musim 2017 kemarin. Hanya satu kali saja Marquez gagal jadi kampiun MotoGP, tak lain pada musim 2015.

Selama enam tahun terakhir juga, tidak ada keluhan berat yang diajukan Marquez kepada para teknisi tim repsol honda, sehingga tak heran dia terus bertahan dan menjadi kampiun dalam empat kesempatan berbeda dengan pabrikan asal Jepang tersebut. Hanya saja, dalam pernyataan terbarunya, Marquez mengaku akan mempertimbangkan kemungkinan hijrah ke Pabrikan lain.

Berdasarkan kabar yang terdengar, sang rider kemungkinan besar akan bergabung dengan Red Bull KTM, bahkan Laporan terbaru mengklaim bahwa yang bersangkutan sudah melakukan negosiasi dengan RB KTM terkait kemungkinan kerja sama di musim 2019 mendatang.

Di lain sisi, banyak faktor pendukung Marquez ke KTM, di antaranya adalah ‘kekuasaan’ sponsor dari kedua belah pihak, Red Bull.

“Tentu kami membicarakannya. Tapi jika seorang rider menginginkan sesuatu, maka ia harus ‘bicara’ di lintasan dan menunjukkan bahwa dirinya memang layak mendapatkannya,” ujar Marquez kepada Marca.

Meski demikian, Marquez juga menegaskan bahwa perkataanya tersebut tidak berarti menjelekkan Tim Repsol Honda karena bagaimanapun dia telah memenangkan empat titel Juara dunia bersama Pabrikan asal Jepang.

“Saya selalu bilang, Honda telah memberi saya segalanya. Mereka selalu mendukung saya 100%, jadi merekalah pihak pertama yang saya dengarkan. Meski begitu, saya juga akan mendengarkan pabrikan lain, mempertimbangkan tawaran lain dan mengevaluasi apa yang terbaik bagi diri saya sendiri,” tutupnya.

Valentino Rossi Akui Saat ini Ducati Motor Terbaik

Valentino Rossi Akui Saat ini Ducati Motor Terbaik

Rider Yamaha Movistar, Valentino Rossi mengaku kaget dengan fakta bahwa Tim Ducati Corse, Jorge Lorenzo mampu memecahkan rekor tercepat dalam sejarah ujicoba di Sirkuit Sepang Malaysia, pada selasa (06/02). Rider asal Italia itupun mengakui bahwa saat ini Tim Ducati adalah tunggangan tercepat yang ada di MotoGP.

Valentino Rossi Akui Saat ini Ducati Motor Terbaik

Seperti diketahui, Jorge Lorenzo yang mengendarai Desmocedici GP18 memang berhasil jadi yang tercepat pada ujicoba di Sepang, Malaysia kemarin. Tunggangan tersebut diklaim mempunyai sasis yang berbeda dengan versi sebelunya. Itulah alasan mengapa Motor yang ditunggangi Lorenzo mudah ‘diajak’ berpindah arah pada setiap tikungan yang ada, dimana hal tersebut sendiri selama ini jadi masalah utama Ducati.

Lorenzo sendiri sampai mengatakan bahwa Desmocedici GP18 adalah tunggangan terbaik yang pernah dia gunakan, bahkan sudah sanagt cocok dengan gayanya di atas aspal. Performanya juga mendapat sanjungan dari sesama Rider, tak terkecuali sang legenda hidup Yamaha movistar, Valentino Rossi,

Kepada Marca, Rossi mengakui keunggulan Ducati, dan menyanjung Lorenzo yang bekerja dibalik steer.

“Jorge telah bekerja dengan sangat baik dan mungkin ia akan tampil kompetitif, karena saat ini Ducati adalah motor terbaik. Tapi kita lihat saja nanti, karena ritme semua rider di uji coba sungguh setara. Tujuh atau delapan rider punya ritme yang mirip. Yang penting kami harus ikut bertarung di depan,” ujar Rossi kepada Marca.

Rossi sendiri tampil kurang maksimal di hari ketiga ujicoba, padahal sebelumnya dia mendominasi pada hari pertama dan jadi yang tercepat di hari kedua. Sang tandem, Maverick Vinales yang mencatat waktu tercepat pada hari kedua, malah terjun bebas ke posisi 18 pada hari ketiga.

“Entah apa yang terjadi. Tapi ini bukan pertama kali terjadi. Saya berharap bisa memperbaiki catatan waktu, tapi tak bisa. Apa ini karena ban? Apa karena suhunya lebih tinggi? Saya tak bilang bahwa saya cemas, tapi saya ingin tahu apa yang sedang terjadi. Kami sudah memeriksa data, tapi kami belum tahu penyebabnya,” tutur Rossi.